Pertanyaan
: Apabila
anda menjadi guru yang berada di daerah pelosok, bagaimana anda bisa merancang stimulasi perkembangan siswa SD
yang sesuai dengan tahap perkembanganya ?
Jawab
: Menggunakan
bahan-bahan yang ada di lingkungan sekitar sebagai bahan ajar dan disesuaikan
dengan materi yang dipelajari saat itu.
Latar
belakang masalah
Pendidikan
dasar secara formal dimulai sejak anak usia tujuh tahun. Mereka diajari
bagaimana bertanggung jawab terhadap kejadian-kejadian yang dihadapi. Misalnya
mereka diberi tugas dari guru untuk mengerjakan soal matematika. Saat mereka di
TK, guru selalu mendampingi siswanya untuk mengerjakan soal tersebut, sekarang
mereka dituntut untuk mengerjakan sendiri untuk mengukur sejauh mana
pengetahuan mereka dalam berpikir secara logis.
Perkembangan
kognitif seorang anak dapat dilihat dari fisik maupun psikisnya. Dari fisik,
mereka dapat bersosialisasi dengan anggota keluarga dan masyarakat, sedangkan
dari psikisnya, seorang anak dapat memecahkan suatu masalah yang ada di
sekitarnya. Misalnya saat ada tamu yang datang ke rumahnya, dia diajari untuk
memberi salam.
Perkembangan
kognitif tiap anak berbeda-beda. Untuk siswa SD, perkembangan kognitif mulai
berkembang pesat. Adanya persaingan antar siswa dalam pelajaran, mereka
dituntut untuk belajar lebih giat agar bisa lebih baik dari teman-temannya yang
cerdas. Akan tetapi ada juga siswa yang tidak peduli dengan prestasi
teman-temannya. Biasanya anak yang seperti ini perkembangan kognitifnya
terlambat karena mungkin saat dia masih kecil, orang tuanya kurang
bersosialisasi dengan anaknya.
Ada hal yang
harus diingat oleh orang tua dan guru adalah bahwa semakin besar seorang anak,
perkembangan kognitifnya pun mengalami perubahan dari sekedar ingin tahu dan
kagum menjadi suatu yang menyatu dengan kepribadiannya seperti halnya kejujuran
atau kepandaian. Perkembangan kognitif bisa mengambil berbagai macam bentuk dan
akhirnya akan menjadi karakteristik pribadi yang ditentukan melalui proses
belajar.
Tetangga saya,
bernama Pak Kuat dan istrinya, Bu Kuat. Mereka mempunyai 11 orang anak. Dari
yang berumur 5 tahun sampai 25 tahun. Karena mereka mempunyai banyak anak,
beberapa anak mereka tidak terurus pendidikannya. Hanya dua orang saja yang
secara normal menjalani pendidikannya. Yang lainnya ada yang sampai tinggal
kelas beberapa kali dan ada yang sama sekali tidak mau sekolah karena lebih
baik bermain di rumah. Ada seorang anak yang seumuran dengan saya, namanya
Nining. Dia saat ini masih kelas tiga SMP. Dia putus sekolah saat dia masih SD
sampai tiga tahun. Kemudian dia bersekolah lagi dan masuk kelas satu SD.
Walaupun berat, dia berusaha untuk berteman dengan siswa-siswa yang lain, yang
umurnya beda jauh dengannya. Rasa minder memang ada, tetapi dia percaya diri.
Dia berpikir agar menjadi contoh untuk adik-adiknya yag tidak mau sekolah. Akan
tetapi saat ini, adik-adiknya masih malas sekolah maupun malas belajar di
rumah. Bapaknya sampai meminta ijin pada bapak saya untuk mengeluarkan anaknya
saja. Katanya, dia tidak mempunyai biaya untuk menyekolahakan anaknya. Bapak
saya adalah wali kelas dua. Bapak saya mengatakan untuk tidak khawatir, karena
anaknya mendapat beasiswa kurang mampu. Untuk apa anaknya tidak sekolah,
disuruh bekerja, mereka mau kerja apa. Sampai saat ini anak-anaknya pun masih
malas belajar dan di rumah mereka bermain dengan teman-temannya. Salah satu
adiknya yang bernama Wayan sampai saat ini belum bisa membaca dan menulis.
Rumusan
masalah
Bagaimana cara
menumbuhkan semangat belajar pada Wayan (adik Nining) dan mengajarinya membaca
dan menulis?
Kajian
Pustaka
Dalam tahap operasi konkret (umur 7-11 tahun) Menurut
Paul (2001:86) yang mengutip teori perkembangan kognitif Jean Piaget memaparkan
bahwa:
Tahap operasi konkret ini dicirikan dengan pemikiran
anak yang sudah berdasarkan logika tertentu dengan sifat reversibilitas dan
kekekalan. Anak sudah dapat berpikir lebih menyeluruh dengan melihat banyak
unsur dalam waktu yang sama (decentering).
Pemikiran anak dalam banyak hal sudah lebih teratur dan terarah karena sudah
dapat berpkir seriasi, klasifikasi dengan lebih baik, bahkan mengambil
kesimpulan secara probabilitas. Konsep akan bilangan, waktu, dam ruang sudah
semakin lengkap terbentuk. Ini semua membuat anak sudah tidak lagi egosentris
dalam pemikirannya.
Meskipun demikian, pemikiran yang logis dengan segala
unsurnya di atas masih terbatas diterapkan pada benda-benda yang konkret, pemikiran
itu belum diterapkan pada kalimat verbal, hipotesis, dan abstrak. Maka, anak
pada tahap ini masih tetap kesulitas untuk memecahakan persoalan yang mempunyai
segi dan variabel terlalu banyak. Ia juga masih belum dapat memecahkan
persoalan yang abstrak. Itulah sebabnya, ilmu aljabar atau persamaan tersamar
pasti akan sulit baginya.
Tabel. Skema
Empat Tahap Perkembangan Kognitif Piaget
Tahap
|
Umur
|
Ciri Pokok Perkembangan
|
Sensorimotor
|
0-2 tahun
|
·
Berdasarkan tindakan
·
Langkah demi langkah
|
Praoperasi
|
2-7 tahun
|
·
Penggunaan simbol atau bahasa tanda
·
Konsep intuitif
|
Operasi konkret
|
7-11 tahun
|
·
Pakai aturan jelas atau logis
·
Reversible dan kekekalan
|
Operasi formal
|
11 tahun ke atas
|
·
Hipotetis
·
Abstrak
·
Dedukti dan induktif
·
Logis dan probabilitas
|
Metode
Untuk
mengatasi anak yangkrang bisa membaca dan menulis, guru maupun orangtua dapat
menggunakan permainan tradisional yang dapat mendukung pembelajaran bahasa pada
anak. Misalnya “Sobyong “
Selain
dapat mendukung pembelajaran bahasa pada anak, permainan ini dapat menuntut
anak untuk berkreasi dan berpikir secara luas tentang kata dan melatih untuk
menulis dan mengeja huruf dari kata yang disebutkan.
Cara bermain :
·
Siswa
mendengarkan demonstrasi guru tentang permainan sobyong.
·
Siswa
terbagi dalam beberapa kelompok yang beranggotakan 5-6 orang.
·
Guru
memberitahukan kepada siswa kategori kata yang akan disebutkan sesuai abjad,
misalnya nama hewan atau nama tumbuhan.
·
Kelompok
memulai permainan.
·
Anggota
kelompok meneriakkan sobyong bersama-sama, sambil mengacungkan beberapa jari di
depan.
·
Anggota
kelompok mengucapkan abjad bersama-sama sesuai dengan jumlah jari yang
diacungkan oleh seluruh anggota kelompok.
·
Setelah
abjad tiba di jari terakhir, siswa harus menyebutkan satu buah kata yang
sesuai dengan kategori yang sudah
disepakati sebelumnya.
·
Siswa
mengeja kata tersebut
Analisis
Dari latar belakang, kajian pustaka dan
metode dapat menjadi insipasi bagaiman cara mengajarkan siswa atau anak untuk
membaca dan menulis tanpa membuat anak atau siswa tersebut merasa bosan dan
malas untuk belajar.
Ada
beberapa cara untuk menumbuhkan motivasi belajar anak. Pertama, membesarkan
hati mereka ketika melontarkan komentar-komentar mereka. Seorang anak atau
siswa akan merasa keberadaannya diakui dan dihargai pendapatnya. Kedua,
mintalah jawaban yang lebih luas bila jawaban-jawaban mereka kuarang berbobot.
Anak akan berusaha untuk mencari jawaban yang lebih kritis dan menjadi yang
pertama menjawab dengan benar dibandig teman-temannya. Ketiga, hindarilah
mengkritik jawaban mereka yang salah dan ketika mereka gagal. Seorang guru
harus lebih menghargai proses belajarnya daripada hasil akhir dari proses
belajarnya. Anak akan lebih tergugah untuk menjadi yang terbaik dan berusaha
lebih keras lagi supaya tidak gagal. Terakhir, hindarilah menempatkan mereka
dalam kelompok-kelompok berkemampuan rendah yang secara umu diketahui oleh
teman-teman yang lain. Karena anak tidak akan mengallami kemajuan dalam
berpikir secara kritis dan logis.
Daftar
Pustaka
Paul Suparno. 2001. Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget. Yogyakarta:
Percetakan Kanisius
Wlodkowski, Raymond J.
2004. Hasrat Untuk Belajar. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar