BUDAYA

BUDAYA

Senin, 09 Juni 2014

Perkembangan Siswa SD di Daerah Pelosok

Pertanyaan : Apabila anda menjadi guru yang berada di daerah pelosok, bagaimana anda bisa    merancang stimulasi perkembangan siswa SD yang sesuai dengan tahap perkembanganya ?
Jawab : Menggunakan bahan-bahan yang ada di lingkungan sekitar sebagai bahan ajar dan disesuaikan dengan materi yang dipelajari saat itu.

       Latar belakang masalah
Pendidikan dasar secara formal dimulai sejak anak usia tujuh tahun. Mereka diajari bagaimana bertanggung jawab terhadap kejadian-kejadian yang dihadapi. Misalnya mereka diberi tugas dari guru untuk mengerjakan soal matematika. Saat mereka di TK, guru selalu mendampingi siswanya untuk mengerjakan soal tersebut, sekarang mereka dituntut untuk mengerjakan sendiri untuk mengukur sejauh mana pengetahuan mereka dalam berpikir secara logis.
Perkembangan kognitif seorang anak dapat dilihat dari fisik maupun psikisnya. Dari fisik, mereka dapat bersosialisasi dengan anggota keluarga dan masyarakat, sedangkan dari psikisnya, seorang anak dapat memecahkan suatu masalah yang ada di sekitarnya. Misalnya saat ada tamu yang datang ke rumahnya, dia diajari untuk memberi salam.
Perkembangan kognitif tiap anak berbeda-beda. Untuk siswa SD, perkembangan kognitif mulai berkembang pesat. Adanya persaingan antar siswa dalam pelajaran, mereka dituntut untuk belajar lebih giat agar bisa lebih baik dari teman-temannya yang cerdas. Akan tetapi ada juga siswa yang tidak peduli dengan prestasi teman-temannya. Biasanya anak yang seperti ini perkembangan kognitifnya terlambat karena mungkin saat dia masih kecil, orang tuanya kurang bersosialisasi dengan anaknya.
Ada hal yang harus diingat oleh orang tua dan guru adalah bahwa semakin besar seorang anak, perkembangan kognitifnya pun mengalami perubahan dari sekedar ingin tahu dan kagum menjadi suatu yang menyatu dengan kepribadiannya seperti halnya kejujuran atau kepandaian. Perkembangan kognitif bisa mengambil berbagai macam bentuk dan akhirnya akan menjadi karakteristik pribadi yang ditentukan melalui proses belajar.
Tetangga saya, bernama Pak Kuat dan istrinya, Bu Kuat. Mereka mempunyai 11 orang anak. Dari yang berumur 5 tahun sampai 25 tahun. Karena mereka mempunyai banyak anak, beberapa anak mereka tidak terurus pendidikannya. Hanya dua orang saja yang secara normal menjalani pendidikannya. Yang lainnya ada yang sampai tinggal kelas beberapa kali dan ada yang sama sekali tidak mau sekolah karena lebih baik bermain di rumah. Ada seorang anak yang seumuran dengan saya, namanya Nining. Dia saat ini masih kelas tiga SMP. Dia putus sekolah saat dia masih SD sampai tiga tahun. Kemudian dia bersekolah lagi dan masuk kelas satu SD. Walaupun berat, dia berusaha untuk berteman dengan siswa-siswa yang lain, yang umurnya beda jauh dengannya. Rasa minder memang ada, tetapi dia percaya diri. Dia berpikir agar menjadi contoh untuk adik-adiknya yag tidak mau sekolah. Akan tetapi saat ini, adik-adiknya masih malas sekolah maupun malas belajar di rumah. Bapaknya sampai meminta ijin pada bapak saya untuk mengeluarkan anaknya saja. Katanya, dia tidak mempunyai biaya untuk menyekolahakan anaknya. Bapak saya adalah wali kelas dua. Bapak saya mengatakan untuk tidak khawatir, karena anaknya mendapat beasiswa kurang mampu. Untuk apa anaknya tidak sekolah, disuruh bekerja, mereka mau kerja apa. Sampai saat ini anak-anaknya pun masih malas belajar dan di rumah mereka bermain dengan teman-temannya. Salah satu adiknya yang bernama Wayan sampai saat ini belum bisa membaca dan menulis.

Rumusan masalah
Bagaimana cara menumbuhkan semangat belajar pada Wayan (adik Nining) dan mengajarinya membaca dan menulis?

 Kajian Pustaka
Dalam tahap operasi konkret (umur 7-11 tahun) Menurut Paul (2001:86) yang mengutip teori perkembangan kognitif Jean Piaget memaparkan bahwa:
Tahap operasi konkret ini dicirikan dengan pemikiran anak yang sudah berdasarkan logika tertentu dengan sifat reversibilitas dan kekekalan. Anak sudah dapat berpikir lebih menyeluruh dengan melihat banyak unsur dalam waktu yang sama (decentering). Pemikiran anak dalam banyak hal sudah lebih teratur dan terarah karena sudah dapat berpkir seriasi, klasifikasi dengan lebih baik, bahkan mengambil kesimpulan secara probabilitas. Konsep akan bilangan, waktu, dam ruang sudah semakin lengkap terbentuk. Ini semua membuat anak sudah tidak lagi egosentris dalam pemikirannya.
Meskipun demikian, pemikiran yang logis dengan segala unsurnya di atas masih terbatas diterapkan pada benda-benda yang konkret, pemikiran itu belum diterapkan pada kalimat verbal, hipotesis, dan abstrak. Maka, anak pada tahap ini masih tetap kesulitas untuk memecahakan persoalan yang mempunyai segi dan variabel terlalu banyak. Ia juga masih belum dapat memecahkan persoalan yang abstrak. Itulah sebabnya, ilmu aljabar atau persamaan tersamar pasti akan sulit baginya.
 Tabel. Skema Empat Tahap Perkembangan Kognitif Piaget
Tahap
Umur
Ciri Pokok Perkembangan
Sensorimotor
0-2 tahun
·         Berdasarkan tindakan
·         Langkah demi langkah
Praoperasi
2-7 tahun
·         Penggunaan simbol atau bahasa tanda
·         Konsep intuitif
Operasi konkret
7-11 tahun
·         Pakai aturan jelas atau logis
·         Reversible dan kekekalan
Operasi formal
11 tahun ke atas
·         Hipotetis
·         Abstrak
·         Dedukti dan induktif
·         Logis dan probabilitas

Metode
Untuk mengatasi anak yangkrang bisa membaca dan menulis, guru maupun orangtua dapat menggunakan permainan tradisional yang dapat mendukung pembelajaran bahasa pada anak. Misalnya “Sobyong “
Selain dapat mendukung pembelajaran bahasa pada anak, permainan ini dapat menuntut anak untuk berkreasi dan berpikir secara luas tentang kata dan melatih untuk menulis dan mengeja huruf dari kata yang disebutkan.
Cara bermain :
·           Siswa mendengarkan demonstrasi guru tentang permainan sobyong.
·           Siswa terbagi dalam beberapa kelompok yang beranggotakan 5-6 orang.
·           Guru memberitahukan kepada siswa kategori kata yang akan disebutkan sesuai abjad, misalnya nama hewan atau nama tumbuhan.
·           Kelompok memulai permainan.
·           Anggota kelompok meneriakkan sobyong bersama-sama, sambil mengacungkan beberapa jari di depan.
·           Anggota kelompok mengucapkan abjad bersama-sama sesuai dengan jumlah jari yang diacungkan oleh seluruh anggota kelompok.
·           Setelah abjad tiba di jari terakhir, siswa harus menyebutkan satu buah kata yang sesuai  dengan kategori yang sudah disepakati sebelumnya.
·           Siswa mengeja kata tersebut


 Analisis
       Dari latar belakang, kajian pustaka dan metode dapat menjadi insipasi bagaiman cara mengajarkan siswa atau anak untuk membaca dan menulis tanpa membuat anak atau siswa tersebut merasa bosan dan malas untuk belajar.
       Ada beberapa cara untuk menumbuhkan motivasi belajar anak. Pertama, membesarkan hati mereka ketika melontarkan komentar-komentar mereka. Seorang anak atau siswa akan merasa keberadaannya diakui dan dihargai pendapatnya. Kedua, mintalah jawaban yang lebih luas bila jawaban-jawaban mereka kuarang berbobot. Anak akan berusaha untuk mencari jawaban yang lebih kritis dan menjadi yang pertama menjawab dengan benar dibandig teman-temannya. Ketiga, hindarilah mengkritik jawaban mereka yang salah dan ketika mereka gagal. Seorang guru harus lebih menghargai proses belajarnya daripada hasil akhir dari proses belajarnya. Anak akan lebih tergugah untuk menjadi yang terbaik dan berusaha lebih keras lagi supaya tidak gagal. Terakhir, hindarilah menempatkan mereka dalam kelompok-kelompok berkemampuan rendah yang secara umu diketahui oleh teman-teman yang lain. Karena anak tidak akan mengallami kemajuan dalam berpikir secara kritis dan logis.

Daftar Pustaka
Paul Suparno. 2001. Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget. Yogyakarta: Percetakan Kanisius
Wlodkowski, Raymond J. 2004. Hasrat Untuk Belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar


Tidak ada komentar:

Posting Komentar